Menumbuhkan Generasi Cerdas Dimulai dari Rumah

Sudah jamak diketahui bahwa pendidikan anak paling dini dimulai dari rumah atau sering disebut pendidikan informal. Setelah usia sekolah selanjutnya anak memasuki pendidikan formal sebagai bekal dalam memasuki pergaulan di masyarakat.Tujuan pendidikan nasional seperti tertuang dalam UUD’45 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Dijabarkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003 sebagai berikut :

Pasal 3 menyebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Apakah kita sebagai orang tua kemudian berlepas tangan menyerahkan sepenuhnya peran dan tanggung jawab pendidikan anak terhadap sekolah setelah anak masuk ke lembaga pendidikan formal? Jawabannya tentu tidak. Tetapi pada kenyataannya sekarang ini banyak orang tua yang kurang berperan dan bertanggung jawab terhadap pendidikan anak.

Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, pendidikan informal dan kontrol sosial atau peran lingkungan masyarakat di sekitar anak, turut memegang peran penting dan seyogyanya bersinergi dengan tujuan pendidikan nasional. Fenomena yang terjadi saat ini banyak bermunculan pendidikan anak usia dini (PAUD/Play Group) yang sebenarnya bertujuan baik namun sering orang tua memandang lain dan beralih fungsi sebagai panti penitipan anak.

Menurut penelitian para ahli psikologi perkembangan anak, di usia anak 0 sampai 8 berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh sehingga berpengaruh pula terhadap keberhasilan pendidikan anak selanjutnya disebut masa keemasan anak . Untuk itu memanfaatkan moment masa masa keemasan anak dipandang penting.

Secara hitungan waktu, anak di sekolah kurang lebih hanya sekitar 5 sampai 6 jam dari 24 jam dalam seharinya, sisanya adalah di rumah atau di luar sekolah. Selama rentang waku sisanya itu banyak kemungkinan yang terjadi dan berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Lalu bagaimanakah bentuk kontribusi orang tua agar tercapai tujan pendidikan nasional? Marilah kita renungkan dan memunculkan kearifan kita masing-masing terhadap masa depan anak kita yang merupakan anak bangsa dan penyambung tongkat estafet menuju cita-cita luhur bangsa Indonesia. Salam

Kegiatan Payaan Hari Kartini di SD Pangudi Luhur I Ska

Perihal padamara88
Berusaha hidup dengan mensyukuri semua karunia Nya

14 Responses to Menumbuhkan Generasi Cerdas Dimulai dari Rumah

  1. ejawantahtour mengatakan:

    Pendidikan tidak lepas dari peran serta dan motifisi orang tua untuk selalu mengarahkan anak dalam memperkenalkan dalam dunia pendidikan. Terutama dunia pendidikan melalui metode sosialisasi terhadap lingkungan yang positif disekitarnya, agar tumbuh mental positif dan terarah. Disinilah kerjasama antara pendidik dan orang tua harus berkesinambungan untuk perkembangan peserta didiknya, agar para siswa dapat lebih terarah dan terkontrol.

    Sukses selalu

    Salam,

    • Abi Sabila mengatakan:

      Saya sepakat dan sependapat dengan Pak Indra. Bagaimanapun tidaklah tepat jika pendidikan hanya dibebankan kepada pihak sekolah. Untuk mencapai hasil pendidikan yang maksimal, ketiga pihak – peserta didik, orang tua dan sekolah – harus sama-sama aktif dan berkoordinasi.

  2. oborooodagiri mengatakan:

    saya sebagai seorang tenaga pendidik sangat setuju sekali.. jangan sampai kewajiban pendidikan anak di cukupkan saja dengan bertumpu pada sekolah dan guru.. justru yang paling utama adalah dukungan dan dorongan dari keluarga serta lingkungan…

    nice post.. salam kenal

    http://garagaraguru.blogspot.com

  3. arikaka22 mengatakan:

    mungkin banyak yang justru menjadikan sekolah sebagai tempat penampungan anak sepertinya hehe :p

  4. Ely Meyer mengatakan:

    setuju ams dengan yg telah diuraiakan di atas.
    Lihat foto di atas jadi ingat murid muridku dulu, bukan di sekolahan sih, tapi di rumahku
    itu dalam acara apa ya mas, kok pada didandanin ? apa dlm rangka hari ibu Kartini ?

  5. ndop mengatakan:

    btw anak anak yg suka tawuran gitu, apa nggak pernah dapat kasih sayang ortunya ya, atau memang karakter? ada nggak sih karakter orang yg suka tawuran? btw, harusnya di tiap kota (yg banyak tawurannya), ada semacam pelatihan tinju gitu. haha..

  6. Sawali Tuhusetya mengatakan:

    bener sekali, pak. idealnya rumah menjadi “syurga” bagi anak2 dlm mengembangkan potensi dirinya. sayangnya, belakangan ini peran keluarga dalam mendidik anak sudah mulai kurang optimal akibat bejibunnya kesibukan ortu di luar rumah.

  7. kakaakin mengatakan:

    Sekarang banyak yang memenyekolahkan anaknya di sekolah terpadu, yang pulang jam 4 sore. Sepertinya ini sekalian nitip juga ya…

  8. offshore bank account mengatakan:

    Manusia dilahirkan dalam keadaan yang tidak berdaya sama sekali. Dia sangat membutuhkan bantuan yang penuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, terutama ibunya, supaya dia dapat hidup terus dengan sempurna, jasmani dan rohani. Orang tualah yang pertama dan utama bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. Dalam ilmu jiwa dikenal dengan istilah pertumbuhan dan perkembangan, yaitu supaya anak sempurna dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: