Sumantri Ngenger

Padepokan Jatisarono

Tersebutlah sebuah padepokan yang terletak jauh di pegunungan nan sepi. Oleh pendirinya yaitu Begawan Suwandageni padepokan itu dinamai Jatisarono. Begawan Suwandageni berputera dua orang ialah Bambang Sumantri dan Sukasarana. Kakak  beradik itu jika diperbandingkan akan sangat jauh berlawanan, layaknya langit dan bumi. Bambang Sumantri berperawakan gagah, berkulit bersih dan tampan wajahnya. Sedangkan Sukasarana bertubuh pendek dan gemuk, berkulit kasar dan sangat buruk rupa seperti buta (raksasa). Tetapi meskipun demikian, dua orang kakak beradik itu hidup rukun saling mengasihi, kemanapun pergi mereka selalu terlihat berdua. Bahkan Sukasarana tak dapat terpisahkan sejengkalpun dengan kakaknya. Meskipun berwujud buta bajang (rasaksa kerdil) namun sebenarnya Sukasarana berhati lembut, tingkahnyapun lucu, sehingga banyak orang yang senang bergaul dengannya terutama cantrik-cantrik di padepokan itu, senang menggodanya. Lain halnya dengan Begawan Suwandagni sangatlah malu mempunyai putera wujudnya seperti itu. Pernah suatu ketika karena menuruti perasaan malu, Suwandagni berniat melenyapkan Sukasarana dari muka bumi, dengan jalan membuangnya ketengah hutan yang terkenal gawat keliwat-liwat. Tetapi karena  belum takdirnya untuk mati, Sukasarana tidak dimangsa binatang buas di tengah hutan itu, bahkan ia bertapa dan mendapat ilmu kesaktian tingkat tinggi dari Sanghyang Pramesthi penguasa hutan itu

Sebagai putera seorang resi, tentu saja Sumantri juga mewarisi ketekunan ayahnya yang suka bertapa, ia juga mendapatkan pengajaran tentang olah batin dan olah kanuragan dari resi Suwandagni. Berkat ketekunannya bertapa Sumantri mendapat anugerah dari Dewa  berupa beberapa senjata pusaka yang ampuh tak tertandingi. Salah satu yang menjadi senjata pamungkasnya adalah senjata Cakra. Namun Dewa berpesan untuk tidak menggunakan senjata Cakra ini secara sembarangan. (sekarang mungkin senjata berhulu ledak nuklir, ya …).

Mengabdikan diri pada raja Harjuna Sasrabahu

Pada suatu hari di hadapan Sumantri, Begawan Suwandagni memberi pengarahan agar Sumantri mencari pekerjaan di lingkungan kerajaan. Sang begawan memandang bahwa Sumantri sudah cukup umur dan mempunyai kesaktian tinggi. Ternyata saran dari ayahnya  merupakan cita-cita Sumantri pula sehingga klop antara dorongan ayah dan keinginan anaknya. Tetapi Sumantri mempunyai ujar bahwa kelak raja yang akan menjadi junjungannya haruslah orang yang dapat mengimbangi kesaktiannya dan mampu menerima serangan senjata Cakra andalannya. Ayahnya memberi bocoran info, bahwa hanya raja di Maespati yang mampu menerima serangan Cakra. Harjuna Sasrabahu raja kerajaan Maespati adalah titisan Dewa Wisnu. Satu ganjalan di hati Sumantri adalah bagaimana cara ia berpisah dengan Sukasarana adiknya. Ia menyadari tidak mungkin mengajak serta adiknya, tetapi tak ada peluang pula untuk berpamitan dengannya secara baik-baik, sebab kemanapun ia pergi Sukasarana selalu mengikutinya. Akhirnya atas saran dari ayahnya diambil jalan tengahnya, yaitu tidak mengajak adiknya, juga tidak berpamitan, alias pergi dengan diam-diammalam hari ketika Sukasrana tertidur lelap. (silahkan membayangkan, bagaimana saat Sukasarana si Buta Bajang yang lucu itu mendapati kakaknya tidak ada lagi di sampingnya)

Sumantri meninggalkan padepokan Jatisarono, terngiang pesan ayahnya bahwa hanya raja Harjuna Sasrabahu yang dapat menandingi kesaktiannya. Hal itu menjadi tanda tanya besar dihatinya, apakah benar Sri Harjuna Sasrabahu adalah orang yang selama ini ia cari.

Raja Harjuna Sasrabahu adalah raja Gung Binathara mempunyai raja bawahan sebanyak 800 kerajaan. Tak terbilang putri-putri dari para raja bawahan yang dipersembahkan namun tak satupun yang menarik hati Sri Harjuna Sasrabahu. Ia masih dilanda keprihatinan mendalam karena calon permaisuri idamannya yang lama dinantikan belum ditemukan. Puteri yang menjadi idaman hatinya adalah yang menjadi titisan Dewi Sri, pendamping yang sesuai untuk titisan Dewa Wisnu. Dilandasi oleh kerinduan hati yang memuncak maka Sri Harjuna Sasrabahu masuk kedalam Sanggar pamujan, mengirim komplain kepada Jawata atas nasib yang dialaminya. Kiriman pun sampai di kahyangan dan menimbulkan kegemparan bagi para Dewa. Untuk meredakan suasana panas di kahyangan, Bethara Guru mengutus asisten pribadinya Bethara Narada. Mengabarkan bahwa saat ini titisan Dewi Sri ada di negeri Magada. Bahkan di sana sekarang sedang ada peperangan memperebutkan puteri titisan Dewi Sri itu, ialah Citrawati.  Bethara guru menyarankan agar Harjuna Sasrabahu segera mengirim utusan ke Magada untuk melamar Citrawati.

Sri Harjuna Sasrabahu segera mengumpulkan raja-raja bawahannya, mengadakan sidang mendadak guna menyusun persiapan pemberangkatan pasukan ke negeri Magada. Di tengah suasana pembahasan, tiba-tiba masuk seorang satria tampan, ketika para yang hadir di situ memperhatikan yang baru datang berpenampilan mirip dengan Sri Harjuna Sasrabahu. Mereka menduga ada hubungan keluarga dengan sang raja Maespati maka dibiarkan saja pemuda itu masuk dan langsung menghadap sang raja. Permohonan Sumantri diterima. Sumantri langsung bergabung dalam pembicaraan menyiapkan pasukan. Bahkan ia mengajukan diri untuk ditugaskan menjadi utusan raja, dan menyarankan agar Sri Harjuna Sasrabahu tidak perlu datang sendiri ke Magada untuk menjaga kewibawaannya.

Melamar Dewi Citrawati

Ketika itu negeri Magada sedang dikepung oleh pasukan yang dipimpin raja Widarba dan sekutunya. Widarba juga bersikeras untuk mempersunting Citrawati. Citrawati sebenarnya juga sudah tahu bahwa jodohnya adalah titisan Wisnu, namun jika keinginan raja Widarba ditolak, tentu akan terjadi peperangan yang tidak seimbang dan Magada akan menderita kekalahan. Maka Citragada raja Magada, memberi alasan menunggu keputusan Citrawati untuk mengulur-ulur waktu, sambil menunggu utusan dari Maespati datang. Utusan dari Maespati akhirnya datang sebelum Widarba memulai perang. Lamaran pun dilakukan. Tetapi ada dua syarat yang diajukan oleh Citrawati sebelum menerima lamaran itu, yaitu mengalahkan raja Widarba dengan sekutu-sekutunya sekaligus membunuhnya dalam peperangan, dan dijemput ke Maespati dengan didampingi putri domas sejumlah 800 orang. Syarat itu disanggupi oleh Sumantri.

Sumantri segera menyiapkan pasukan untuk memukul raja Widarba dengan sekutunya. Singkat cerita misi Sumantri dalam menyelesaikan syarat no1 sudah berhasil dengan gemilang. Maka untuk menuntaskan misi yang ke 2, Sumantri mengirim utusan ke Maespati agar menyiapkan sejumlah putri domas menjemput Citrawati. Karena ada banyak raja bawahan Sri Harjuna Sasra,  tidaklah sulit untuk mengumpulkan 800 putri domas. Tibalah 800 putri domas di Magada. Giliran Sumantri memikirkan cara untuk melaksanakan niatnya menantang adu kesaktian dengan Sri Harjuna Sasra.  Maka dikirimlah surat tantangan melalui seorang utusan yang intinya untuk memperoleh Citrawati tidak segampang itu. Sri Harjuna Sasra harus memperjuangkan dengan perang tanding melawan Sumantri. Sri Harjuna Sasrabahu adalah titisan Wisnu, maka ia menanggapi tantangan Sumantri dengan kepala dingin bahkan mengirim utusan untuk membawakan busana kanarendran (raja) yang gemerlapan dan kereta perang yang terbilang representatif bagi Sumantri. Namun jauh di lubuk hati Sri Harjuna Sasra sebenarnya merasa kecewa dengan sikap Sumantri. Tidak sesuai dengan perkataannya ketika pertama memohon untuk mengabdi kepadanya.

Perang tanding di alun-alun Magada

Di alun-alun Magada, sudah siap menanti para penonton yang ingin menyaksikan jalannya perang tanding antara Sumantri dengan Prabu Harjuna Sasra. Para raja dari ratusan negeri berdiri membentuk lingkaran, di tengah lingkaran itu dua tokoh yang sakti akan saling memperlihatkan keperwiraannya.  Perang tandingpun segera dimulai. Di atas kereta perang, masing-masing saling menunjukkan kemahirannya dalam mengendarai dan melepaskan senjata panahnya..

Sumantri melepaskan satu demi satu senjata andalannya. Ketika panah itu di lepaskan ke udara, ada yang menampakkan perwujudan api menyala, naga yang siap memangsa musuhnya, dan burung Garuda menukik dengan paruh dan cakarnya siap menerkam. Semua yang menyaksikan peristiwa itu terkagum melihatnya. Namun senjata Sumantri yang telah dilepaskan, semuanya dapat ditanggulangi oleh Harjuna Sasra. Panas hati Sumantri, dengan tanpa berfikir panjang ia segera bersiap melepaskan senjata pamungkasnya Cakra. Demi melihat senjata larangan itu nekat juga hendak dilepaskan, meluap amarah Sang titisan Wisnu, Harjuna Sasra  bertiwikrama dan membesarlah tubuhnya berubah menjadi raksasa sebesar bukit. Tiada ampun lagi, dipegangnya Sumantri tanpa bisa berkutik. Ketika siap akan dihempaskan ke bumi, tubuh kecil dalam genggaman raksasa itu meratap mohon ampun. Luluh hati Harjuna Sasra, berubah lagi wujudnya menjadi manusia dan terlepaslah Sumantri dari ancaman maut. Dengan menyembah dan bersujud di hadapan Harjuna Sasra, Sumantri memohon pengampunan. Prabu Harjuna Sasra menerima permohonan ampun dari Sumantri selanjutnya akan menerima pengabdian Sumantri dengan satu syarat, yaitu Sumantri harus bisa memindahkan Taman Sriwedari yang ada di Gunung Untara ke Maespati, dalam keadaan utuh tanpa secuilpun berubah. Kemudian Prabu Harjuna sasra kembali ke pasanggrahan meninggalkan Sumantri tertegun mendapat tugas berat yang harus dilaksanakannya.

 

Datanglah sang penolong

Prabu Harjuna Sasra telah kembali ke negara Maespati dengan memboyong Citrawati dan semua putri domas serta raja-raja pengiringnya. Sementara Sumantri dengan tertunduk sedih meratapi nasibnya dan menyepi di tengah hutan.  Ia memikirkan bagaimana cara memindahkan taman Sriwedari ke Maespati. Sebenarnya pekerjaan itu akan menjadi mudah jika ada Sukasarana, adiknya yang sakti itu disampingnya. Tiba-tiba, hal yang tak dinyana Sukasarana datang menghampiri.

“ Kakang Sumantri …, mengapa kakang tinggalkan aku seorang diri …” , sapa Sukasarana.

Sumantri yang belum hilang rasa terkejutnya tak bisa menjawab pertanyaan adiknya itu.

“Mengapa kakang Sumantri bersedih hati … , menyendiri di hutan ini …, ada apa Kang …ayo katakan “ , desak si Sukasarana.

Sumantri menceritakan semua yang terjadi dan tugas berat yang harus ditanggungnya. Sukasarana menyanggupkan diri untuk merampungkan tugas memindah taman Sriwedari itu, asalkan Sumantri berjanji setelah pekerjaan itu selesai Sukasarana diperbolehkan ikut mengabdi di keraton Maespati. Tanpa pikir lagi Sumantri segera menyanggupinya. Deal!, Taman Sriwedari telah berpindah tempat di Maespati.

Tak sengaja panah itu terlepaskan

Kabar telah berpindahnya taman Sriwedar ke Maespati itu sampai ke telinga Dewi Citrawati. Maka dengan tidak sabar ia ingin segera masuk dan melihat keindahan taman itu. Kecut hati Sumantri bagaimana nanti jika tuan puteri mendapati adiknya yang berwujud “buta bajang” itu ada di sampingnya. Tentu akan terjadi kegemparan. Oh no!, maka Sumantri membujuk Sukasrana untuk pergi menjauh sebelum tuan puteri Citrawati berkeliling di Taman Sriwedari. Dengan lantang Sukasarana pun menolaknya dan dengan suara keras menuntut Sumantri untuk menepati janjinya. Maka untuk menakut-nakti adiknya supaya mau pergi meninggalkannya, Sumantri mengeluarkan busur dan mengarahkan anak panah ke tubuh adiknya itu. Sukasarana tak bergeming seincipun dari tempatnya karena ia memastikan kakaknya tak akan bersungguh-sungguh membidiknya. Memang demikian adanya, tetapi nasib berkata lain, entah apa yang menggerakkannya tiba-tiba saja anak panah itu melesat dari busurnya tanpa disengaja dan tak ampun lagi tubuh Sukasarana terhunjam anak panah, nyawanya melayang di tangan saudara kandung yang disayanginya. Belum habis rasa bingungnya akan keadan yangmenimpa adiknya itu, terdengar suara Sukasarana yang sudah menjadi sukma.

“ Tak kusangka kakang Sumantri …, kasih sayangku padamu kau balas dengan tindakan sekeji ini …, namun aku menyadari bahwa ini sudah menjadi takdirku …, pada saat perang dengan Alengka nanti, tibalah balasan untukmu…, dan kita akan bersama lagi di kehidupan Nirwana …”

Tak terbendung lelehan air mata Sumantri meratapi kematian Sukasarana. Ia menyesali atas perbuatan yang dilakukan terhadap adiknya.

Bambang Sumantri telah resmi diaterima pengabdiannya di Maespati. Bahkan oleh Harjuna Sasrabahu dianugerahi jabatan patih dengan nama Suwanda. Perjalanan hidup Sumantri akan berakhir seperti supata Sukasarana ketika ia berperang menghadapi Rahwana. Raja si angkara murka dari Alengka. (Selesai )

Sumber gambar : sudarjanto.multiply.com, pitoyo.com

Perihal padamara88
Berusaha hidup dengan mensyukuri semua karunia Nya

5 Responses to Sumantri Ngenger

  1. marsudiyanto mengatakan:

    Meski beberapa nama baru keingat, tapi saya pastinya bisa menginguti cerita pewayangan maupun makna yang ada didalamnya…
    Sejak kecil saya dekat dengan kesenian wayang kulit…

  2. Umi Ha Es mengatakan:

    Meski hanya muncul dari imajinasi seseorang, namun kisah ini bisa menjadi cermin kehidupan yang tak lekang zaman.

  3. Delphia mengatakan:

    You’ve hit the ball out the park! Inilcdebre!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: