Krendhawahana Forest Neglected Cultural Heritage Site

Krendhawahana Forest is the name of a cultural heritage site in Surakarta. There by the relatives of the Surakarta court often held traditional rituals, namely Mahesa Lawung, but now the situation is truly alarming. Entering the area of the site has a slum impression and is poorly maintained. Ward or resting place looks very worrying.

Image: Ward inside the Alas Krendhawahana site area

The Krendhawahana forest is in dire need of attention from the relevant parties, considering the existence of Alas Krendhawana as the common thread of the struggle of the Javanese land pioneers, especially Prince Diponegoro, it is said that they often organize a strategy for guerrilla warfare against the Dutch colonial army and followers there.

Picture: The site where the Mahesa Lawung ritual is performed, a traditional ritual of the Surakarta palace

Hopefully this slightly disturbing article can inspire cultural lovers to pay attention to and think about the existence of the Alas Krendhawana site to stay sustainable.

Iklan

Alas Krendhawahana Situs Warisan Budaya yang Merana

Alas Krendhawahana adalah nama sebuah situs warisan budaya di Surakarta. Di situ oleh kerabat keraton Surakarta sering diadakan ritual adat yaitu Mahesa Lawung namun kini keadaannya sungguh memprihatinkan. Masuk ke areal situs berkesan kumuh dan kurang terawat. Bangsal tempat beristirahat atau berteduh terlihat sangat mengkhawatirkan.

Gambar: Bangsal di dalam area situs Alas Krendhawahana

Alas Krendhawahana sangat memerlukan perhatian dari pihak-pihak terkait mengingat keberadaan Alas Krendhawana menjadi benang merah perjuangan para pionir tanah Jawa khususnya Pangeran Diponegoro, dikisahkan sering berembug untuk mengatur siasat perang gerilya bersama pengikutnya di tempat itu.

Gambar: Punden tempat melakukan ritual Mahesa Lawung ritual adat keraton Surakarta

Semoga tulisan yang sedikit mengusik ini dapat menggugah para pemerhati budaya untuk bersama memperhatikan dan memikirkan keberadaan situs Alas Krendhawana agar tetap lestari.

Guyonan Punakawan III

Mulo Bukane Jaran yen mlaku Manthuk-manthuk Sapi Gedheg-gedheg

Petruk : Gong …, Bagong!

Bagong : Opo Kang Petruk…

Petruk : Opo sebabe jaran yen mlaku karo manthuk-manthuk, yen sapi

gedheg-gedheg?

Bagong : Ya pancen wiwit mulo bukane wis ngono yo Kang…

Petruk : Ora mengkono Gong.., mengkene larah-larahe.

Sawijining dino jaran ketemu karo sapi lagi podho nggeret grobage.

ndilalah jaran pas ngetokke manuke sing gedhe tur ndlondeng..

Bagong : Terus piye Kang?

Petruk : Terus sapi alok : ” Ora umum…” Karo gedheg-gedheg, krungu

mengkono jaran banjur muni ” Emang gue pikirin…” karo manthuk-

manthuk

Bagong : Wong edan!

Bersama Mewujudkan Lingkungan Sekolah Hijau

Jpeg

Lingkungan sekolah hijau merupakan dambaan semua warga sekolah. Pada masa kini halaman sekolah yang masih cukup leluasa untuk melakukan penghijauan dirasa semakin langka karena pemanfaatan yang optimal lahan di sekolah untuk pendirian bangunan. Bangunan yang berfungsi sebagi penunjang kelengkapan sarana dan prasarana sekolah tentunya.

Sebuah sekolah memang perlu memiliki sarana dan prasarana yang memadai namun demikian juga harus tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Pemanfaatan secara maksimal halaman sekolah untuk penghijauan akan berdampak positif bagi warga sekolah dan lingkungan. Perlu upaya yang nyata dan dilandasi oleh rasa tanggung jawab akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Satu pohon adalah pabrik oksigen dan pengendali kesegaran udara maka  kalikan saja dengan berapa pohon yang tumbang di hutan sana dan tak tergantikan.

Jpeg

Halaman sekolah terkhusus di perkotaan diharapkan menjadi penyeimbang kerindangan karena banyaknya hunian yang hanya sedikit menyisakan lahan untuk pepohonan.

Monumen Bersejarah Tugu Lilin

Tugu Lilin yang terletak di Kelurahan Penumping Kecamatan Laweyan adalah sebuah monument yang dibangun pada masa pra kemerdekaan tepatnya pada tahun 1933. Konon tanah pada fondasi monument itu diambil dari seantero penjuru Nusantara. Tugu lilin dibangun untuk memperingati 25 tahun terbentuknya organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo seperti tertera pada prasasti yang tertempel di tugu pembangunan tugu tersebut untuk Peringatan Pergerakan Kebangsaan Indonesia. Pembangunan tugu diprakarsai oleh ketua Parindra Solo Woerjaningrat.

Jpeg

Peresmian tugu Lilin dilakukan oleh Dr. Soetomo yang saat itu tengah berkunjung di kota Solo. Dr Soetomo mengatakan, ”Van Solo begin de vyctory (Dari Solo kemenangan dimulai).

Jpeg

KID ZAMAN OLD

KID ZAMAN OLD

Mengikuti tren penggunaan istilah baru dalam perbendaharaan kosa kata Bahasa Indonesia untuk menyebut anak generasi sekarang yang selalu mengikuti perkembangan jaman (Update) dengan istilah Kid Zaman Now sedang untuk menyebut anak yang ketinggalan  jaman (jadul) dengan istilah Kid Zaman Old.

termasuk manakah anda? 🙂

IMG_20171109_045639_955.jpg