Wisrawa

Prabu Sumali dan Dewi Sukesi

Alkisah dinegeri Alengka, Prabu Sumali sedang memikirkan puterinya Dewi Sukesi, yang sudah beranjak dewasa tetapi belum mempunyai pendamping dalam hidupnya. Sebenarnya sudah tak terbilang banyaknya para ksatriya yang meminang sang puteri, tetapi tidak satupun pinangan itu yang diterimanya. Apakah para satriya itu tidak memenuhi syarat dan kriteria yang diinginkan oleh Dewi Sukesi? Apakah syarat pinangan itu terlalu berat?

Syarat utama supaya pinangannya diterima bukanlah pemberian harta berlimpah dan uang mas dan perhiasan-perhiasan berlian indah dan mahal  atau mas picis rajabrana. Bukan pula pemberian tanah yang luas atau real estate, bukan pula kedudukan serta kekuasaan.

Sastrajendrahayuningrat

Syarat utama pinangan yang diajukan Sang Dewi adalah barang siapa yang dapat mempresentasikan secara pas dan gamblang sebuah kitab yang berjudul Sastrajendrahayuningrat. Meskipun hanya sebuah kitab, tapi kitab yang satu ini bukanlah perkara yang baen-baen. Sastrajendra adalah ngelmu sejati, pengetahuan spiritual yang hanya diperuntukkan para dewa. Sudah barang tentu tidak banyak orang tahu, bahkan mendengar judulnya pun belum pernah. Para pelamarpun dengan perasaan kecewa berat pulang dengan tangan hampa. Namun karena Prabu Sumali adalah raja yang bijaksana, dengan santun beliau memberi pengarahan kepada para pelamar sehingga mereka tidak dihinggapi rasa sakit hati. Para pelamar juga bertekat kembali lagi setelah berguru atau mencari referensi mengenai kitab itu di perpustakaan seantero negeri. Kalau sekarang mungkin dengan browsing di internet tanya sama Mbah Google ya ….

Begawan Wisrawa

Sementara itu di kerajaan Lokapala, baru saja menobatkan putra mahkota menjadi raja baru. Raja yang baru diwisuda adalah Raja Danaraja, menggantikan ayahandanya yang lengser keprabon – dengan sukarela turun tahta. Raja yang turun tahta itu ialah Wisrawa. Sebenarnya belum begitu tua usianya, namun karena lebih ingin menekuni jalur spiritualitas, ingin membersihkan jalan kehidupannya dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan mengamalkan pengetahuan spiritualnya kepada sesama mahluk Tuhan. Ia merasa terpanggil madeg pandita. Wisrawa telah digembleng jiwanya, ia telah menguasai kesejatian hidup, ia adalah salah satu manusia yang menguasai ilmu Sastrajendra.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Sugriwa Subali

Bahwa pesan yang tidak jelas dapat memicu terjadinya kekisruhan merupakan benang merah yang dapat ditarik dari kisah pewayangan ini.

Berawal dari kegoncangan yang terjadi di Suralaya akibat aksi sepihak dari raja kerajaan Kiskenda ialah Maesasura dan patihnya Lembusura, menyebabkan Sang Hyang Guru mengutus Bethara Narada tedak di marcapada. Maesasura mendeklarasikan tuntutan yang tidak proporsional, dengan nekat meminta seorang bidadari untuk dijadikan isterinya. Padahal Satriya yang gagah perkosa sekalipun jika tanpa inisiatif dari Sang Penguasa Langit dan oleh karena jasanya yang besar terhadap para Dewa kemudian mendapat anugerah seorang bidadari, tak bakalan bisa mendapatkannya. Apalagi tokoh ini adalah golongan raseksa yang berwajah kerbau dan patihnya berwajah sapi, tentu saja Dewa sangat berkeberatan untuk meluluskan permintaannya. Kenekatan raja kerajaan Sura dan didukung patihnya ini tentu saja tidak dilakukan tanpa persiapan dan dukungan yang handal. Maesasura dan Lembusura merupakan tokoh nan sakti serta didukung pasukan dan senjata alteleri yang siap memporak porandakan kahyangan dalam sekejap. Baca tulisan ini lebih lanjut

Narasoma Sebagai Gambaran Sifat Manusia Yang Sombong

Narasoma menduduki tahta kerajaan Mandaraka bergelar Prabu Salya. Prabu Salya masih mempunyai hubungan pertalian keluarga dengan Pandhawa. Kedekatannya dengan Pandawa karena suatu peristiwa sayembara yang diadakan untuk memperebutkan puteri raja negeri Mandura, ialah Dewi Kunti. Seperti dikisahkan sebelumnya, ketika diusir ayahnya narasoma pergi mengembara. Dewi Madrim, adik Narasoma sangat menyayangi kakaknya, dan belum habis kerinduannya terpaksa harus berpisah lagi maka menyusullah Madrim mengikuti kepergian Narasoma. Perjalanan Narasoma hingga sampai negeri Mandura yang saat itu sedang diadakan sayembara perang tanding memperebutkan Dewi Kunti. Sekaligus untuk menjajal ajian Candrabirawanya Narasoma mendaftar sayembara dan berhasil memenangi event itu. Pandhu yang saat itu juga datang berniat untuk mengikuti sayembara, ternyata sudah terlambat dan akan kembali pulang. Lagi-lagi Narasoma menampakkan keangkuhan dan kesombongannya. Ia menghentikan niat Pandu yang akan pulang dan menantangnya perang tanding. Tidak tanggung-tanggung sebagai taruhannya adalah Dewi Kunti dan adiknya Dewi Madrim. Semula Pandu tidak mau menanggapi tetapi karena Narasoma terus memaksa, tiada jalan lain kecuali melayani tantangan itu. Baca tulisan ini lebih lanjut

Sumantri Ngenger

Padepokan Jatisarono

Tersebutlah sebuah padepokan yang terletak jauh di pegunungan nan sepi. Oleh pendirinya yaitu Begawan Suwandageni padepokan itu dinamai Jatisarono. Begawan Suwandageni berputera dua orang ialah Bambang Sumantri dan Sukasarana. Kakak  beradik itu jika diperbandingkan akan sangat jauh berlawanan, layaknya langit dan bumi. Bambang Sumantri berperawakan gagah, berkulit bersih dan tampan wajahnya. Sedangkan Sukasarana bertubuh pendek dan gemuk, berkulit kasar dan sangat buruk rupa seperti buta (raksasa). Tetapi meskipun demikian, dua orang kakak beradik itu hidup rukun saling mengasihi, kemanapun pergi mereka selalu terlihat berdua. Bahkan Sukasarana tak dapat terpisahkan sejengkalpun dengan kakaknya. Meskipun berwujud buta bajang (rasaksa kerdil) namun sebenarnya Sukasarana berhati lembut, tingkahnyapun lucu, sehingga banyak orang yang senang bergaul dengannya terutama cantrik-cantrik di padepokan itu, senang menggodanya. Lain halnya dengan Begawan Suwandagni sangatlah malu mempunyai putera wujudnya seperti itu. Pernah suatu ketika karena menuruti perasaan malu, Suwandagni berniat melenyapkan Sukasarana dari muka bumi, dengan jalan membuangnya ketengah hutan yang terkenal gawat keliwat-liwat. Tetapi karena  belum takdirnya untuk mati, Sukasarana tidak dimangsa binatang buas di tengah hutan itu, bahkan ia bertapa dan mendapat ilmu kesaktian tingkat tinggi dari Sanghyang Pramesthi penguasa hutan itu Baca tulisan ini lebih lanjut

Kidang Kencana

Dalam pengembaraan, setelah mendapat hukuman buang selama 15 tahun, Rama, Sinta dan Lesmana tengah berada di tengah hutan. Ketika mereka bertiga sedang beristirahat, Sinta dikejutkan oleh suatu pemandangan yang sangat menakjubkan. Seekor kijang yang cantik, lincah, dan kulit tubuhnya berwarna keemasan berlari dan berloncatan kian kemari. Hati Sinta tergoda untuk  dapat memiliki kijang yang elok menawan itu. Maka dengan sangat, Sinta memohon kepada Rama suaminya untuk dapat menangkap kijang kencana hidup-hidup untuknya. Rama sangat menyayangi Sinta isterinya maka dengan suka cita ia meluluskan permohonan isterinya. Sebelum pergi mengejar kijang kencana, Rama berpesan kepada adiknya.

Baca tulisan ini lebih lanjut

JAYADRATA

Jayadrata adalah salah satu tokoh pinunjul nan sakti yang berada di pihak Kurawa. Keberpihakannya di Kurawa tak lepas dari usaha Sengkuni dalam rekruitment calon perwira untuk menghadapi Pandhawa kelak di perang Bharatayuda.

Jayadrata ialah anak seorang pertapa tua yang bernama Begawan Samphani. Misteri melingkupi tentang silsilah Jayadrata. Konon ia berasal dari ari-ari Werkudara yang saat dilarung di sungai secara tidak sengaja ditemukan oleh Begawan Samphani. Oleh   Begawan Samphani kemudian dipuja menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa.

Karena mempunyai kedigdayaan yang pilih tandhing, di Hastina Jayadrata mendapat tempat yang istimewa. Bahkan oleh Prabu Drestarastra ia diambil menantu dinikahkan dengan Dewi Dursilawati satu-satunya saudara perempuan Duryudana. Hal itu menyebakan ia terikat kuat di pihak kiri. Jayadrata nama lainnya adalah Aria Tirtanata.

Dalam perang Bharatayuda,  Jayadrata mempunyai peran yang penting. Saat terjadi campuh di Kurukasetra, dengan formasi pasukan Cakrabyuha berhasil mengurung Abimanyu dan menahan para Ksatria Pandhawa menembus kepungannya untuk menolong putra Harjuna itu. Siasat Jayadrata berhasil, Abimanyu dihujani senjata serentak dari berbagai arah, mengakibatkan gugurnya Ksatria muda itu di medan laga.

Harjuna sangat terpukul dan sempat mengalami down akibat kematian Abimanyu. Kresna yang berperan sebagai penasehat di pihak Pandhawa, tak henti-hentinya menyemangati agar Harjuna tegar kembai. Alhasil Harjuna bangkit lagi dan bersumpah akan melaksanakan pati obong, jika di pertempuran hari itu ia tidak berhasil menewaskan Jayadrata. Akhirnya panah sakti Harjuna Pasopati beraksi dan tersungkurlah Jayadrata yang saat itu menjadi senapati perang. Tubuh  terpisah dengan kepalanya. Peristiwa itu mengingatkan betapa saktinya seseorang, jika ia berada di pihak yang salah, maka kesaktiannyapun tak bisa menyelamatkannya.

Sumber gambar : Artkimianto.blogspot.com

Di Rentang Malam

Jemari keriput itu masih lincah mengeriyap
Menari di sela-sela dawai siter
Nada petikan menggelayut berdenting
merunut irama gending
Sinom Pari Jatha mengalun dari bibir sinden
meski usia lebih setengah umur
suaranya masih terdengar merdu
Pengendang yang juga tak kalah sayuk,
menyemangati dengan sigrak gending yang memang berwirama gumyak Baca tulisan ini lebih lanjut

KAWIN MUDA BISA MENGUNDANG KEJAHATAN

Perkawinan terlalu muda tidak layak dianjurkan, alasannya, dunia perkawinan adalah suatu legalitas yang tidak boleh begitu saja diremehkan. Secara mental, rohani, dan jasmani, anak-anak di usia muda masih belum mempunyai kematangan dalam berumah tangga.

Baca tulisan ini lebih lanjut

Keluarga Kecil

Di Sebuah Pondok

Disebuah pondok tinggallah seorang anak bersama ibunuya

Ditinggal ayahnya yang telah terlebih dahulu meninggal dunia

Mereka bertani di sebuah kebun waris keluarga

Jauh dari kota terpencil di sebuah desa

Kalau malam tiba ibu bercerita tentang ayah

Juga tentang kakek dan nenek yang telah lama tiada

Mereka dahulu orang yang kaya raya

Memiliki banyak harta dan terpandang di mata tetangga

Pada suatu hari terjadilah suatu peristiwa

Gempa bumi yang dahsyat menghancurkan rumah-rumah dan seisinya

Harta benda binasa dan banyak orang yang mati

Ditelan bumi yang terbelah membuat hati sedih

Tanah itu tidak bisa lagi ditanami

Penduduknyapun lebih banyak yang mati

Tanah menjadi sepi tidak seorangpun berani

Bermalam atau singgah meskipun hanya sehari

Burung-burungpun enggan tinggal di negeri terasing

Hewan pun enggan berbaring di bumi yang kering

Bahkan angin pun panas oleh bara api yang tak pernah padam

Yang menyembur baik siang maupun malam

Nak, mengapa kita tinggal di sini hanyalah karena rahkmat

Tuhan mengutus ibumu sambil mengggendong kau ke kota

Sehingga ketika bencana hinggap kita selamat

Pulang ke desa ini desa kerabat dari keluarga

Bila kau besar nanti, Nak, jadilah orang yang bijak

Belajar menuntut ilmu karena itulah harta yang mulia

Yang tak pernah dapat dirampas atau rusak

Oleh orang yang jahat atau orang yang durhaka

Disunting dari karya : Abi Parulian Nadeak

SEJAK AWAL SEKS TIDAK TABU

Semua makhluk yang menghuni bumi ini diberi kesempatan untuk melestarikan jenisnya dengan cara berkembang biak. Tidak terkecuali hewanpun juga dikaruniai cara berkembang biak untuk meneruskan generasinya.

Manusia sebagai makhluk yang paling mulia, dikaruniai akal budi diberi kemampuan untuk melestarikan jenisnya dan menata bumi dengan segala macam isinya. Manusia diberi tempat di planet ini untuk mengurus dan memeliharanya. Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa pria dan wanita dengan fungsi masing-masing melengkapi rencana Tuhan untuk ”berkembangbiak” guna memenuhi bumi ini.

Seca fisik manusia dibedakan menjadi dua jenis lelaki dan perempuan..lelaki diberi ciri keperkasaan sedang wanita diberi kelembutan. Secara kodrat keduanya diberi ciri dan karakter yang berbeda. Kedua ciri dan sifat tersebut bukan untuk menunjukkan tingkatan atau  level melainkan kadar. Kedua kadar ini saling mengisi dan melengkapi sehingga tercipta suatu keselarasan hidup yang dinamai “kebahagiaan”. Kebahagiaan inilah yang yang menjadi tujuan utama makhluk manusia , suatu suasana kodrati yang selalu diharapkan oleh manusia baik dalam perilaku maupun dalam hal seksual. Binatang yang berpasang-pasangan merasakan betapa rindunya hati untuk menemukan pasangan hidup. “kerinduan” inilah yang ditanamkan Tuhan di dalam dirimanusia sehingga pria merindukan wanita demikian pula sebaliknya .dua jenis insan yang berbeda tetapi sama di dalam tujuan dan kerinduan. Walah kok serius amat nih … Cape deh ….

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 278 pengikut lainnya.